Home » Mainan » Mengingat Kembali  2 Mainan Tradisional Sunda

Mengingat Kembali  2 Mainan Tradisional Sunda

Sebenarnya Indonesia kaya akan berbagai kebudayaan. Dari adat kebiasaan, kuliner, pakaian dan lain sebagainnya. Termasuk mainan tradisional tentunya. Tiap daerah di Indonesia  termasuk dareah jawa barat atau sunda juga memiliki mainan yang dulu sering dimainkan oleh anak – anak. Di Jawa barat sendiri mainan – mainan ini umumnya masih sering dimainkan sekitar 30 tahun yang lalu. Walaupun disebagian daerah yang masih terpencil, masih ada yang memainkannya. Memang kalo dibahas satu persatu memerlukan waktu yang panjang. Tapi setidaknya mari kita mengingat kembali 2 mainan tradisional sunda yang pernah ada.

Mengingat Kembali  2 Mainan Tradisional Sunda

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara mainan tradisional dan modern saat ini. Selain faktor teknologi tentunya. Kalau mainan modern yang dimainkan oleh anak – anak, nilainya hanya sekedar nilai materi.  Maksudnya, hanya membutuhkan uang untuk mendapatkannya. Dan anak – anak sekarang tinggal langsung memainkannya. Bagaimana dengan mainan dulu? Anak – anak dulu, harus bekerja keras untuk membuatnya sendiri. Meskipun sederhana.  Ada nilai dibalik mengucurnya keringat ketika membuatnya, anak – anak dulu diajarkan untuk mandiri. Selain itu diajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu harus diperjuangkan. Nah, buat anda yang ingin mencoba menanamkan pembelajaran itu pada anak anda, ini dia mainan tradisional tersebut.

Baca Juga : 5 Macam Mainan tradisional Jepang yang Masih Eksis

Rorodaan atau momobilan

Dulu mainan tradisional ini sangat populer. Anak  – anak biasanya memainkannya pada waktu siang hari setelah pulang sekolah. Mainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki – laki. Proses pengerjaannya termasuk yang paling rumit dan lama dibandingan dengan mainan lainnya. Mainan ini dibuat dari bambu sebagai bahan yang dominan. Untuk membuatnya anak – anak harus membelah bambu menjadi bagian – bagian kecil yang akan dirangkai menjadi bodi mobil dengan menggunakan karet gelang. Untuk bannya biasanya menggunakan bekas sandal jepit yang dibentuk menjadi ban. Untuk kemudinya menggunakan bambu yang dibelah panjang disambungkan dengan roda bagian depan yang berfungsi sebagai pendorong juga . Cara memainkannya anak – anak mendorong mainan itu dengan memegang bambu pengendalinya sambil berjalan.

Egrang atau jajangkungan

Ini mainan tradisional yang lebih membutuhkan ketangkasan dan keseimbangan. Cara memainkannya, anak – anak harus bis berdiri dan berjalan di atas pijakan bambu yang tingginya kira – kira sekitar 40 – 50 cm. Pijakan bambu tersebut disambungkan pada bambu yang tingginya 1 – 2 meter.  Satu alat untuk satu kaki. Ketika kaki mulai naik ke pijakan disitulah keseimbangan dan ketangkasan anak – anak  dibutuhkan. Kalau proses pembuatannya sederhana, bambu pijakan dibolongi,kemudian dimasukan bambu yang panjangnya 1 – 2 meter. Untuk menahan pijkan digunakan penguat dari bambu lagi. Bisa ditusukan seperti paku atau dibikin segitiga penguat yang menyambungan ujung pijakan dan ujung  tongkat bambu bagian bawah.

Post Tag With :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *